Hidup sering diibaratkan seperti kapal. Bahtera yang kita tumpangi ini berlayar mengarungi samudera kehidupan menuju pulau impian. Hakikat pelayaran selalu bertemu dengan ombak bahkan badai. Tak jarang ada kapal yang akhirnya karam, karena tidak mampu lagi menahan dan menghadapi ombak.
Agar perahu tidak karam maka manusia harus berhati-hati menjalankan perahunya. Harus pandai dan menguasai peralatan untuk berlayar. Harus tahu kemana angin berhembus, agar layar tidak salah arah. Harus tahu perubahan cuaca dan peka pada keadaan sekelilingnya.Jika demikian gambaran tentang hidup manusia di dunia, maka benarlah apa yang Allah SWT sampaikan.
“Demi masa. Sungguh manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran,”
(QS Al-Ashr:1-3)
Waktu, menjadi fokus yang teramat penting dan dominan. Karena waktu tidak pernah bisa tergantikan, berjalan tanpa dapat dihentikan. Waktu jualah, yang menjadi kunci jawaban dari masa depan seseorang. Apakah ia akan mendapatkan kehidupannya lebih baik atau sebaliknya. Jika waktu pergi meninggalkan kita, hanya ada dua hal yang tinggal bersama: sesal atau amal.
Manusia dengan menggunakan waktu dapat membuat blue print kehidupannya. Dengan demikian hidup ini memiliki tujuan dan komitmen untuk mencapai cita-citanya., sebagaimana blue print yang telah Allah buat
untuk makhluk-Nya, ”Sesungguhnya tidak Aku ciptakan jin dan manusia, melainkan untuk beribadah kepada-Ku,” (QS Adz-Dzariyat: 56).
Dalam rangka mencapai tujuan hidup itu, ada tiga kunci yang harus dimiliki dan dijaga dengan sebaik-baiknya. Hal tersebut dapat menuntun kita sebagai seorang hamba untuk mencapai tingkatan atau derajat tinggi dalam dua kehidupan berbeda.
Berusaha, langkah pertama yang harus kita lakukan. Berusaha dalam mencapai kehidupan yang lebih baik di dunia, juga berusaha untuk mencapai posisi tertinggi dalam kehidupan akhirat.
Dari langkah awal inilah, akan lahir output yang akan kita nikmati hasilnya. Dalam bentuk materi dan non materi, semuanya akan berbanding lurus dengan aktivitas ikhtiar kita memanfaatkan waktu yang terbatas.Bersama itu, di dalamnya ada yang harus kita lalui dengan bijak. Yakni, bagaimana dalam berusaha kita mampu untuk bekerja keras, kerja cerdas dan tentunya bekerja ikhlas.
“… hadapkanlah wajahmu (kepada Allah) pada setiap shalat, dan sembahlah Dia dengan mengikhlaskan ibadah semata-mata hanya kepada-Nya…,”
(QS Al-A’raf: 29)
Imam Hasan Al-Banna mengatakan, “Kewajiban lebih banyak dibanding waktu yang tersedia.” Atas dasar itu, tentu semua orang ingin mendapatkan hasil yang terbaik. Allah menyampaikan bahwa hanya orang yang beriman dan mengerjakan kebajikanlah yang tidak masuk dalam sumpah-Nya sebagai orang yang merugi.
Bersabar, menjadi langkah penguat pondasi ikhtiar yang kita buat. Agar kita dapat menjaga keyakinan, bahwa segala yang terjadi memiliki cerita terbaik bagi kehidupan kita.
“Dan orang-orang yang beriman serta mengerjakan kebajikan, Kami tidak akan membebani seseorang melainkan menurut kemampuannya. Mereka itulah penghuni surga; mereka kekal di dalamnya,”
(QS Al-A’raf: 42)
Orang-orang sabar, merekalah para pemenang, sehingga diberikan penghargaan yang tinggi oleh Allah SWT, bahwa Dia akan bersama dengan orang-orang yang sabar. Dengan sabar pula, Allah menjadikannya sebagai alat untuk mendapatkan pertolongan-Nya. Melalui sabar, usaha yang kita kerjakan akan terbentengi dari tipu daya syetan dari golongan jin dan manusia, sehingga kita sebagai seorang hamba mampu utnuk terus belajar dari setiap kegagalan, tanpa harus kehilangan nikmat-Nya. “Wahai anak cucu Adam! Janganlah sampai kamu tertipu oleh syetan sebagaimana halnya dia (syetan) telah mengeluarkan ibu bapakmu dari surga…,” (QS Al-A’raf: 27)
Bersyukur, menjadi pengikat dari dua kunci kehidupan sebelumnya. Inilah yang menentukan kepuasan dari hasil akhir, pencerminan diri kita dalam memanfaatkan segala potensi diri atau sumber daya yang ada.
Syukur, juga menjadi jaminan akan bertambahnya nikmat Allah kepada kita. Selain ancaman bagi mereka yang mengingkarinya, yakni azab yang pedih. “...Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat pedih,” (QS Ibrahim: 7)
Dengan syukur pula, kita akan mampu mengevaluasi atas output yang kita terima dari dua rangkaian kunci hidup tersebut. Sebab, apa yang kita dapat merupakan hasil dari perbuatan kita sendiri. Semakin banyak amal perbuatan positif yang kita kerjakan, maka akan semakin tinggi nilai tabungan positifnya.
Tiga kunci tersebut, nantinya akan menjadi penentu akan terbukanya pintu-pintu rezeki, tercukupinya segala kebutuhan kita. Dan yang lebih penting adalah semakin dekatnya kita kepada Sang Khalik.
Lantas, apakah kita mau untuk selalu berusaha, kemudian bersabar dengan segala proses yang digariskan oleh-Nya dan bersyukur menikmati semua pemberian Allah SWT. Jadi mari kita gunakan tiga kunci hidup itu dengan sebaik-baiknya, demi masa depan yang jauh lebih baik. Dalam kehidupan sementara, atau pun kehidupan abadi di akhirat nanti.